Walaupun pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Angkatan XXVI Tahun 2025, berlangsung di Aceh Tamiang, sudah berlalu.
Tetapi bagi peserta tentunya banyak pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan. Seakan masa satu bulan di lokasi KKM, terasa baru satu Minggu, waktu begitu cepat berputar, banyak kenangan yang membekas dalam ingatan yang tidak mungkin bisa diputar ulang.
Betapa pun susah dan sedih selama KKM, tetapi bagi mereka program tersebut telah memberi pengalaman, pengetahuan dan kenangan luar biasa bagi peserta.
Karena KKM juga telah mengajarkan mereka untuk sabar, kreatif, berani, bertanggung jawab, tepat waktu. Peduli, saling menghormati dan menghargai, berkomunikasi dan bekerjasama, kepemimpinan juga sikap pasrah dan lainnya.
Seperti yang diceritakan sejumlah mahasiswa KKM Universitas Almuslim, ditempatkan di Kampung Muka Sungai Kuruk kecamatan Seruway.
Mereka antara lain : M. Azgha Fadil Ulfannarkan, prodi Teknik Sipil, Ayu Rahmawati prodi PGSD, Bisminadia prodi Informatika, Syahrul Hidayat, prodi Informatika, Nora Maulida, prodi Ekonomi Pembangunan, Rahmi Riana, prodi PGSD, Halimatus Sa’diah, prodi Pendidikan Matematika dan Rizka Khairuna prodi PGSD
Mereka mengikuti KKM selama satu bulan telah mengalami banyak pengalaman dan kenangan yang seakan tidak sanggup diceritakan.
Mulai perasaan canggung beradaptasi dengan lingkungan di awal kedatangan, sampai perpisahan yang harus ditangisi yang tidak mungkin diulang.
Di awal perkenalan peserta sempat muncul sikap canggung, tetapi akhirnya hilang tanpa berbekas, hal itu karena derasnya aliran kehangatan, kebaikan dan keramahtamahan yang di berikan masyarakat kampung Muka Sungai Kuruk, menyambut kehadiran mereka.
Hari-hari berikutnya mereka diperkenalkan oleh ketua Karang Taruna dan sejumlah perangkat kampung tersebut.
Masyarakat sangat mendukung kehadiran peserta KKM, mereka ikut berpartisipasi dalam setiap pelaksanaan program kerja yang mereka laksanakan.
Sehingga membuat kehadiran mereka menjadi satu kesatuan bersama masyarakat
Kampung Muka Sungai Kuruk.
Kampung Muka Sungai Kuruk memiliki luas 459 Ha, terdiri dari 665 Kepala Keluarga (KK), dengan jumlah penduduk 2564 Jiwa.
Masyarakatnya bermata pencaharian beragam, mulai dari pertanian, pedagang, pegawai negeri sipil, hingga peternakan, mayoritas bermata pencaharian petani sawah dan buruh pabrik kelapa sawit.
Banyak kisah yang dialami mahasiswa Umuslim saat melaksanakan program kuliah kerja Mahasiswa (KKM) di kampung tersebut.
Aneka kekayaan budaya Aceh Tamiang yang dimiliki kampung Muka Sungai Kuruk, telah membuat kami menjadi betah dan senang tinggal di sini, sehingga dengan cepat menghilangkan rasa kecemasan dan ketakutan yang kami alami di awal kedatangan kami ke kampung tersebut.
Selama mengikuti KKM, kami mahasiswa banyak mendapat pengalaman dan kesan yang sulit dilupakan, Cerita Ayu Rahmawati mahasiswi prodi PGSD.
Selain masalah tempat tinggal dengan kondisi daerah baru, kami juga harus beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat setempat, kadang juga masalah menu dan rasa makanan yang berbeda dengan daerah asal.
Selain itu juga kami harus bisa saling bekerjasama, saling memperhatikan dan membantu sesama, karena kami berasal dari keluarga dan prodi berbeda, tentunya banyak ulah dan tinggah yang kadang tidak bisa seia sekata.
Tetapi di balik semua kekurangan dan perbedaan itu, kami menemukan berbagai pengalaman, pelajaran dan kesan yang menyenangkan.
Mulai sambutan Datok Penghulu dan ibu, serta bertemu perangkat dan penduduk kampung yang luar biasa ramah, ujar Azgha Fadil Ulfannarkan yang bertindak sebagai ketua kelompok KKM kampung tersebut.
Kami peserta KKM juga sangat terkesan dengan sambutan penduduk, begitu antusias menyambut kehadiran mereka.
Kami bersyukur dapat di terima dengan baik oleh masyarakat, senang bisa tahu dan kenal dengan masyarakat semuanya baik, ramah dan asik. Kami merasa seperti menjadi bagian dari keluarga besar Kampung Muka Sungai Kuruk.
Banyak pelajaran, pengalaman yang kami dapat dari KKM ini, seperti pembelajaran untuk tepat waktu, peduli satu dengan yang lain, kebersamaan dan lainnya.
Akhirnya kami bisa bersosialisasi, saling berbagi, menghargai dan bermpati dengan masyarakat, hal ini tentunya merupakan ilmu yang paling berharga bagi kami yang bisa menjadi pelajaran baru yang tidak ada di buku, jelas M. Azgha Fadil Ulfannarkan.
Seperti diceritakan Ayu Rahmawati, salah satu pengalaman tak terlupakan ketika kami berkesempatan menyaksikan dan terlibat dalam prosesi pernikahan adat Melayu dan Aceh.
Dimana saat datangnya rombongan pengantin pria disambut dengan pencak silat Rencah tebang yang melambangkan perjuangan membina masa depan dengan proses yang beraturan.
Proses Rencah tebang itu tentunya tidak ada dalam adat istiadat pesta adat di Aceh Pesisir, cerita Ayu Rahmawati gadis kelahiran Juli Bireuen ini.
Kami belajar tentang makna setiap tahapan, mulai dari ba ranup hingga pengantaran dara baro dalam adat Tamiang, selain itu juga kami menyaksikan keindahan pakaian adat, alunan musik tradisional, dan hidangan khas Aceh Tamiang membuat kami terpukau.
Prosesi perkawinan di Aceh Tamiang sarat akan adat dan istiadat yang berlaku. Bahkan acara adat masih terus berlanjut sampai beberapa hari setelah dilaksanakannya pesta perkawinan.
Yang paling menarik dalam prosesi itu tentunya tradisi berbalas pantun, merupakan sebuah budaya yang mendarah daging bagi masyarkat Tamiang.
Hal ini tentunya agak berbeda dengan budaya dan adat di wilayah Aceh pesisir seperti Bireuen misalnya, tambah Ayu didampingi Bisminadia.
Kemudian hari-hari berikutnya, menurut Ayu didampingi temanya yang lain seperti Nora, Rahmi Riana, Halimatus Sa’diah, dan Rizka Khairuna, setiap hari Jumat siang, mereka mengikuti kegiatan wirid bersama ibu-ibu di tempat pengajian.
Usai wirid, dilanjutkan doa bersama, alunan suara merdu lantunan ayat suci Al-Quran dan doa-doa telah memberi ketenangan hati kami yang jauh dari orang tua dan sanak saudara.
Setelah selesai pengajian dan wirid, semua peserta berkumpul semua, kami berdiskusi, curhat, tawa dan canda bersama ibu-ibu, menjadi suasana semakin akrab, membuat kami merasa memiliki ibu-ibu baru di kampung ini, tambah Ayu dengan semangat.
Tidak ada sekat perbedaan, yang ada semangat persaudaraan dan kekeluargaan antara kami dengan mereka, para ibu-ibu mengangap kami sebagai anak, adik dan keluarga mereka.
Puncak dari kegiatan keagamaan yang kami ikuti di kampung tersebut, ketika kami dilibatkan sebagai panitia dalam penyelenggaraan kegiatan lomba Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
Semangat gotong royong warga kampung dan antusiasme anak-anak dalam mengikuti lomba membuat kami terkesan dan mempunyai kenangan tersendiri, dari situ kami bisa belajar tentang nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan dan persaudaraan.
Selain itu kegiatan Posyandu, juga telah menambah ilmu dan arena belajar bagi kami tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak.
Kami membantu para kader Posyandu menimbang bayi, memberikan imunisasi, dan penyuluhan kesehatan. Interaksi dengan ibu-ibu dan anak-anak membuat kami sadar akan pentingnya peran tenaga kesehatan di masyarakat.
Setiap pagi, kami bersemangat menuju SD terdekat untuk mengajar. Senyum ceria anak-anak menyambut kedatangan kami, telah menambah amunisi semangat pengabdian bagi kami, kami berbagi ilmu pengetahuan, bermain, dan bernyanyi bersama.
Melihat semangat belajar mereka, kami merasa terharu dan termotivasi untuk menjadi pendidik yang dapat digugu.
Dalam waktu yang sangat terbatas, keberadaan kami di lokasi KKM, di sela-sela kegiatan, kami juga memanfaat waktu dan berkesempatan menjelajahi keindahan alam bumi Sedia Sekata.
Kami telusuri beberapa sungai dengan aliran air yang jernih, dengan latar belakang hamparan sawah yang menghijau, ditambah luasan perkebunan sawit yang luas, telah memberikan sedikit ketenangan bagi kami dalam menikmati, indahnya ciptaan tuhan yang maha kuasa, ungkap M. Azgha Fadil Ulfannarkan, mahasiswa prodi Teknik Sipil.
Selain itu Ayu Rahmawati juga bercerita tentang lezatnya aneka kuliner daerah tersebut,
"Kami juga sempat mencicipi dan mengenal berbagai kuliner khas Aceh Tamiang yang lezat, seperti kue rasyidah, lontong gado-gado, bubur pedas, gulai ayam, cerita Ayu lagi sambil menampakkan selembar foto saat mereka mencicipi kuliner di sebuah cafe.
Menurutnya Kampung Muka Sungai Kuruk telah menjadi rumah kedua bagi mereka. Kami membawa pulang kenangan manis, ilmu pengetahuan, dan pengalaman berharga yang akan kami kenang selamanya tambah Nora Maulida turut diiyakan temanya Rahmi Riana.
Satu bulan berlalu, satu bulan terasa satu Minggu, seakan jarum jam berputar begitu cepat, kini tiba waktunya kami harus kembali ke kampus dan kampung masing - masing.
Kami harus pamit untuk meninggalkan semua kesan, persaudaraan, kebersamaan dan kenangan yang baru saja kami rasakan, ungkap, Ayu dengan mata mulai berkaca-kaca.
Linangan air mata seakan tidak mau berhenti, untuk mengabarkan kepada warga bahwa kami harus kembali ke kampung masing-masing.
Saya sedih, kami semua sedih, hari-hari terakhir di kampung kenangan, kampung pengalaman, tentunya kampung Muka Sungai Kuruk.
Packing kembali barang – barang yang harus kami bawa pulang, termasuk sejumlah berkas data kampung untuk menyelesaikan laporan.
Perasaan senang untuk pulang, seakan tidak terpancarkan dari setiap wajah mereka, itulah saking sedihnya mereka meninggalkan kampung yang telah memberikan mereka ilmu pengabdian dan kenangan yang sulit dilupakan.
Mereka datang untuk pamit, karena waktunya pulang, mereka seakan tidak menyangka, bahwa hari itu mereka harus segera meninggakan kampung yang telah mereka huni selama satu bulan.
Walau air mata kesedihan terus mengalir di setiap pipi, mereka harus berpisah, semua masyarakat hanya berucap, "Kalian sehat – sehat ya? Nanti kita ketemu lagi.
Terima kasih, Kampung Muka Sungai Kuruk, atas segala pelajaran dan kehangatan yang telah diberikan.
Kami selalu mengingat KKM di Aceh Tamiang yang meninggalkan jejak kenangan yang tak terlupakan dan selalu mengenang kembali momen-momen indah selama KKM di Aceh Tamiang.
Banyak cerita yang ingin di bagi, tapi bingung cara menceritakannya. Selama 30 hari kami di Kampung Muka Sungai Kuruk, atas segala pelajaran dan pengalaman.
Rasanya sulit, tetapi tentunya tidak sesulit mencari jarum di tepung, untuk mendapatkan kembali pelajaran dan pengalaman dari KKM.
Banyak pembelajaran yang kami dapatkan seperti untuk tepat waktu, peduli satu dengan yang lain, kebersamaan dan lainnya.
Pergi ke Tamiang mencari kembang Loyang
Kembang dimakan lidah bergoyang
Kampung Muka Sungai Kuruk tinggalkan kesan, Kenangan indah takkan terlupakan.
Kalau ada kesempatan, nanti kami berkunjung kembali kesana.
Terimaksih sudah memberikan kesan.🙏🙏