Pak Zol, itu mereka anak saya ya,..




Walau pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen Angkatan XXVI tahun 2025 di Aceh Tamiang  beberapa waktu lalu, sudah berakhir.

Tetapi berbagai kejadian ragam nostalgia, kenangan dan kesan  terasa tidak akan habis-habisnya muncul dari situasi lapangan untuk diceritakan.

Untuk tulisan ini, penulis mencoba merangkum cerita pengalaman penulis alami sendiri  yang hampir saja terasa jantung copot, teryata endingnya bak film India penuh perhatian,  persahabatan dan kekeluargaan.

Ceritanya diawali dari kalimat ini..

"Pak Zol, itu mereka delapan orang anak saya ya,.."

Itulah kata-kata, menurut saya layak untuk dijadikan judul tulisan kenangan dari lokasi KKM kali ini.

Masih tergiang ditelinga saya, ucapan dari seorang Datok Penghulu (Kepala desa), padahal kejadiannya sudah berlalu  beberapa waktu, tetapi sampai hari ini ucapan tersebut tidak bisa terlupakan begitu saja.

Seakan kejadiannya seperti  orang menulis di atas kertas bukan melukis di atas air.

Kata tersebut terucap dari mulut Yusrizal selaku Datok Penghulu kampung Tanjong Seumantok kecamatan Karang Baru, lokasi Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Bireuen Angkatan XXVI tahun 2025 di Aceh Tamiang.
 
Ucapan tersebut beliau sampaikan langsung kepada saya Zulkifli, M.Kom selaku  Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kampung Tanjong Seumantok saat penjemputan di kantor Camat.

Lahirnya tulisan ini, juga akibat kesan yang  terjadi secara dadakan di ruangan aula saat perpisahan itu.

Ceritanya begini....
Pada hari terakhir keberadaan peserta KKM di lokasi dilakukan penyerahan kembali mahasiswa dari pemerintah setempat kepada pihak kampus.

Di awali prosesinya di tingkat kecamatan, kemudian berlanjut ke Kabupaten

Prosesi penyerahan kembali peserta KKM di kecamatan Karang Baru, dilakukan oleh Facrurrazi, Syamsuyar, S.STP., MM selaku Camat Karang Baru menyerahkan kembali mahasiswa peserta KKM Universitas Almuslim di Aceh Tamiang kepada Zulkifli, M.Kom, koordinator Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)  kecamatan Karang Baru.

Penyerahan berlangsung secara sederhana  di aula kantor Camat,  turut dihadiri Muspika, kuakec dan perwakilan Puskesmas  serta seluruh Datok Penghulu kampung lokasi KKM dalam wilayah Kecamatan Karang Baru.

Acara prosesi penyerahan diawali kata pengantar pembukaan oleh sekcam,  kemudian penyampaian kesan dan pesan dari perwakilan mahasiswa, dilanjutkan dari perwakilan Datok Penghulu.

Kemudian kata mohon pamit disampaikan Zulkifli, M.Kom selaku  koordinator Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), setelah itu dilanjutkan arahan sekaligus penyerahan oleh Facrurrazi, Syamsuyar, S.STP., MM selaku Camat  Karang Baru, terakhir ditutup dengan doa oleh Kuakec.

Prosesi seremonial selesai, dilanjutkan mohon pamit dengan  bersalam-salaman antara  mahasiswa,  Camat, Muspika, Datok Penghulu dan seluruh  DPL serta beberapa undangan lainnya.

Setelah acara seremoni selesai, sekitar  10 menit, kemudian semua orang sudah keluar dari ruangan aula, yang tinggal  beberapa orang staf kantor camat, untuk membereskan absensi dan perapian kembali kursi aula.

Kemudian saya (Zulkifli, M.Kom) selaku koordinator DPL, masuk lagi ke aula untuk  mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada petugas yang sedang beres-beresin di ruangan, sambil sedikit bercerita dan  berseloroh, karena saya ingin pamit untuk kembali ke Bireuen.

Tiba-tiba secara mendadak bapak Yusrizal selaku Datok Penghulu kampung Tanjong Seumantok membuka pintu ruangan aula, sambil berucap :

"Mana Pak Zol"  ucap beliau, dengan suara tegas, seperti orang mencari sesuatu yang tidak beres.

"Ada pak", jawab saya dengan perasaan sedikit ketakutan, hal ini terjadi karena gaya beliau mencari saya sangat tergesa-gesa, seakan orang ingin marah dan penuh persoalan.

Seandainya  kata-kata tersebut, terdengar saat kondisi Aceh dalam suasana konflik, rasanya jantung ini akan jatuh berkarang-karang, begitulah suasana saat pak Datok mencari saya saat itu.

Setelah mendengar itu, semua terdiam,  ruangan terasa hening, jantung saya mulai berdebar, langit cerah seakan jadi mendung, tatapan staf kantor camat semakin tajam melihat kearah Datok Penghulu.

Kemudian  Datok Penghulu merangkul saya, sambil memegang bahu kiri saya, beliau berucap, pak Zol,  saya mau ngomong dengan bapak sebentar, ucapnya  pelan.

Dengan pikiran penuh penasaran dan ketakutan, saya menjawab, "Boleh, dimana pak? tanya saya kepada beliau.

Terus beliau pegang tangan kiri saya, mengajak keluar dari ruangan aula. Saat beranjak keluar, debaran jantung saya mulai berdetak kencang, seakan beriringan kencangnya berkejaran  perputaran roda motor Lewis Hamilton di  Formula 1 GP.

Kami berjalan pelan ke ruang pak sekcam, beliau  buka pintu ruang sekcam, pas mau masuk, "Aah ngak usah disini pak Zol", kita kebelakang saja, ucapnya sambil balik arah dan  menarik tangan kanan saya.

Pikiran saya tambah  kacau, perasaan ketakutan mulai menguasai diri saya,  kaki berjalan seperti di tanah berduri, pokoknya jantung dag..dig..dug terus berdebar.

Keringat dingin mulai mengintip setiap pori-pori kulit, karena sudah tidak sabar untuk  memuncratkan dirinya agar bisa keluar membasahi setiap jengkal tubuh berwarna lenggam mirip warna kulit warga daerah Gujarat.

Secara pelan, kami berjalan menyusuri lorong sempit kantor Camat menuju ke belakang kantor.

Setelah melewati satu belokan, sampailah kami di belakang kantor,  kebetulan lokasinya bersisian tempat tumpukan barang bekas kantor.
Disitu sudah ada tumbukan perabotan kantor rusak, diantara barang itulah ada berjejer dua bangku panjang yang sudah setengah second.

"Disini saja kita duduk, sambil beliau mempersilakan saya duduk di bangku  yang sedikit berdebu.

Terus kami duduk berdua di bangku agak sedikit miring, menghadap arah kebun sawit, kami duduk  agak berdempetan, karena memang bangkunya sudah masuk daftar list bidang aset untuk pergantian.

Suasana saat duduk persis seperti Gen Z berpacaran, walau tempatnya agak sedikit kurang nyaman, tetapi karena suara hati sudah berbunga, semuanya jadi indah.

Suasananya hening, jantungnya dag..dug..dug, perasaannya berbunga-bunga penuh emoji Love berterbangan.

"Pak Zol, itu mereka delapan orang anak saya ya,..?" Ucap Pak Yusrizal selaku Datok Penghulu Tanjong Seumantok, berucap kepada saya, sambil menepuk lutut saya.

Dulu, saat awal bapak datang antar mereka ke kampung saya. "Bapak bilang, tolong bapak jaga anak-anak ini sebagai anak bapak sendiri, kata Pak Zol kan?, beber Datok Penghulu sambil mengingat-ngingat nostalgia saat pengantaran mahasiswa di rumah beliau.

Ya, saya jawab pelan, sambil saya tatap wajahnya dengan senyuman persahabatan.

Ini sekarang, saya berharap sama pak Zol, itu anak saya tolong bapak bantu mereka ya?, itu delapan orang anak saya pak, mereka saya titip sama pak Zol tolong bapak bantu, ucap Datok penuh harap.

Mendengar itu, otak  kanan saya mulai berputar ada apa gerangan??, sampai pak Datok, ucapkan kata-kata itu, saya jadi bingung, adakah sesuatu kejadian dilakukan anak-anak ini, gumam saya sambil mengerut dahi saya yang mulai sedikit berkeringat.

Atau adakah warga kampung tersebut yang harus ganti KTP untuk saya bawa pulang ke Bireuen, pikiran saya semakin liar, seliar ilalang yang tumbuh subur disela-sela akar sawit.

Ah...kalau memang ya? apa salahnya, siapa tahu bisa melahirkan generasi  kolaborasi dua etnis, gumam saya dalam hati yang terus berdebar.

Untuk menenangkan pikiran agar tidak liar kemana-mana, saya  pinjam saja ucapan  Gus Dur, "Itu saja kog repot".

Setelah itu, saya langsung menatap pelan wajah pak Datok, di bola matanya terlihat cahaya embun air mata lelaki itu mulai mengalir pelan.

Ndak ada kejadian apa-apa pak Zol, mereka baik-baik semua, ucap Pak Datok  kepada saya, sambil tangan kirinya memeluk saya.

Kemudian saya berucap, Siap Pak !!. Jawab saya seperti prajurit berpangkat kelasi dua menghadap Jenderal.

Kemudian saya sambung lagi, "Kalau itu anak bapak, tolong bapak anggap saya sebagai adik atau saudara bapak juga", ucap saya  dengan suara sedikit bergetar.

Kemudian dengan mata berkaca-kaca, beliau berucap, baik pak,  siap, siapp, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh saya, dan dagunya  mendekap bahu saya.

Kejadian tersebut untung tidak ada fotografer yang mengabadikan, karena suasana pelukan, dibelakang kantor dan pinggiran kebun sawit itu, hampir sama gaya dalam film Bollywood.

Tetapi tubuh kami tidak ada berputar-putar, karena pelukan kami, hanya sebatas pelukan persahabatan dan kekeluargaan, bukan pelukan cinta siben yang diiringi  nafsu cinta.

Saat itu, air mata keharuan dan kekeluargaan seakan ingin langsung  tumpah di pertemuan setengah rahasia itu.

Suasana saat pelukan persahabatan pagi menjelang siang itu sedikit adem, akibat hembusan angin perkebunan dengan kecepatan  dibawah rata-rata melewati celah-celah pohon sawit tua yang kondisinya  terasa mau monoupouse.

Walau tua, tapi suara gesekan pucuk pohon sawit   belakang kantor camat Karang Baru, sangat  terasa, sehingga lambaian daun sawit dengan warna kehijauan  itu jadi saksi bisu permintaan permohonan penuh perhatian dan harapan  seorang kepala kampung kepada DPL KKM.

Lahirnya permintaan dari Pak Datok Tanjong Seumantok, tentunya, bukan akibat pelukan pada pertemuan gelap dibelakang kantor Camat itu, juga bukan  akibat  perpisahan yang tertangisi dan tentunya juga bukan pertemuan melewati ambang batas di malam sepi. 

Tetapi semuanya merupakan   hasil proses yang terjadi selama 30 hari pelaksanaan pengabdian dan keberadaan mahasiswa KKM Universitas Almuslim Peusangan di Aceh Tamiang.

Proses tersebut tentunya karena perhatian dan kebaikan pak  Yusrizal selaku Datok penghulu dan isterinya buk Ainil, serta dukungan seluruh warga Kampung Tanjong Seumantok.

Seperti di sampaikan M.Akmal peserta KKM kampung tersebut, menurutnya  selama mereka berada di lokasi  KKM, terasa sangat nyaman dan senang, tidak ada kendala dan kegelisahan apapun, karena perhatian Datok Penghulu, juga kebaikan warga masyarakat kepada mereka.

Selama dilokasi, kami merasakan Pak Datok dan isterinya bahkan termasuk nenek (Mamak Datok) seperti keluarga kami sendiri.

Begitu juga warga semuanya menerima kami seperti warga mereka sendiri, cerita M.Akmal.

Selain perhatian, untuk mendukung pelaksanaan program,  kami juga sering dikasih kenderaan dinas Datok, apabila ada keperluan yang membutuhkan kenderaan, ujar  M.Akmal.

Sebelum perpisahan pulang, mahasiswa KKM sempat  dibawa rekreasi  ke lokasi wisata  pemandian Gunung Pandan, di Dusun Pandan, Kampung Selamat, Kecamatan Tenggulun.

Menuju  ke objek wisata tersebut,  harus menempuh jarak,  dari pusat Kota Kuala Simpang sekitar 38 kilometer, dari Simpang Tiga Semadam atau jalan Medan-Banda Aceh sekitar 24 KM.

Objek Wisata Pemandian Gunung Pandan  dipilih Datok Penghulu Tanjong Seumantok sebagai lokasi   berekreasi bersama peserta KKM, karena   kondisi alam  sangat asri, udaranya segar,  air sungai sangat jernih dan sejuk karena  langsung dari kaki gunung.

Perjalanan kami ke lokasi wisata tersebut semua biaya ditangung oleh Datok Penghulu, ujar M.Akmal diiyakan teman-teman lain.

Konsumsi  selama dilokasi kami masak di rumah Datok, kemudian diikuti sejumlah pemuda dan warga kami berbaur menuju lokasi dan sempat menginap di Villa satu malam, semua pembiayaan ditanggung Datok Penghulu, cerita mereka.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi,  mulai dari Simpang Tiga Seumadam-Gunung Pandan, kami disuguhkan pemandangan alam perkebunan kelapa sawit milik sejumlah perusahaan baik swasta, PTP Nusantara 1 maupun milik pribadi dengan nuansa udara yang sejuk dan segar.

Sehingga suasananya menambah keseruan perjalanan rekreasi kami bersama keluarga Datok Penghulu dan masyarakat Tanjong Seumantok, ucap Akmal didampingi Aris Munandar.

Sesampai di lokasi, kami langsung menuju  tempat penginapan terletak  dipinggir sungai, airnya begitu jernih dan sejuk.

Terasa hilang kecapekan selama kami bergelut dengan proker dan laporan-laporan   KKM, ungkap Nailul Farizki mahasiswi prodi  PGSD dan Syifaul Husna dari prodi EKP/ Ekonomi.

Mereka  bermalam satu malam menginap di penginapan yang sudah disewakan oleh Datok Penghulu.

Menurut Muhammad Akmal mereka di Tanjong Seumantok   satu kelompok KKM ada 8 orang, seperti Aris Munandar prodi Teknik Sipil,  Ida Riani (Informatika), Fulka Tartila (PGSD), Intan Rizki Farazilla ( Informatika), Nailul Farizki (PGSD), Syifaul Husna ( EKP) dan 
Siti Sakila ( PGSD).

Menurut mereka  pak Yusrizal selaku  Datok, sangat baik dan perhatian kepada mereka, pak Datok sering memberi nasehat kepada mereka, seperti saat perpisahan, beliau pernah berucap  kepada kami

"Anak-anakku, setiap perpisahan adalah awal dari sebuah perjalanan baru. Ingatlah, meski kita berjauhan, kekeluargaa dan kenangan kita akan selalu mempersatukan kita.

Jangan pernah lupakan ajaran agama dan nilai-nilai kemasyarakan dan sosial yang telah kalian  lakukan selama ini.

Karena itu merupakan kekuatan sejati untuk diri kalian. Teruslah belajar dan jadilah pribadi  bermanfaat, ucap pak Datok kepada mereka, cerita mereka penuh simpatik.

Menurut pak Datok, perpisahan ini bukanlah akhir, tetapi sebuah kesempatan untuk tumbuh dan berkembang,  ingatlah selalu kami di sini,  selipkan selalu nama kami   dalam setiap doamu, harapnya.

Walau jarak memisahkan kita, persahabatan dan persaudaraan harus selalu abadi. Jangan ragu untuk terus belajar untuk meraih impianmu, Datok percaya kalian bisa, harapnya dihadapan mereka.

Setiap langkah yang kamu ambil adalah bagian dari perjalanan kalian, jadikan pengalaman KKM sebagai pengalaman  berharga, jangan lupa  bersyukur, harap Datok Penghulu.

Ingatlah selalu persaudaraan yang telah terbangun, jaga hubungan baik dengan masyarakat yang telah membantu kesuksesan selama di lokasi KKM, karena mereka adalah sumber dukungan tak ternilai.

“Jika kita membantu orang disaat orang itu membutuhkan bantuan itu lebih beharga dan lebih di ingat sepanjang masa” ungkap Datok Penghulu.


Saya harapkan kepada kalian, jabgan bersedih dan  jangan simpan dalam hati,  setiap amarah dan bentakan yang pernah saya lakukan, termasuk oleh  isteri  saya dan warga kepada kalian,  itu merupakan  bentuk kepedulian kami kepada kalian, ungkap Datok Penghulu.

 Kalian harus selalu ingat kampung ini, walau hanya 30 hari kalian ada di sini. Datok bangga pada kalian, keseriusan  dan usaha kalian adalah harapan bagi masa depan.

Banyak yang KKM di kampung ini tapi tidak ada perpisahan yang sesedih ini, ucap buk Ainil isteri Datok Penghulu Tanjong Seumantok sambil mengusap tetesan air yang mulai mengalir dari sudut mata kirinya.

Menurut Akmal, saat perpisahan minta pamit untuk pulang, suasana haru dan awan sedih menyelimuti pertemuan akhir kami di rumah Datok Penghulu.

Saat kami julurkan tangan untuk bersalaman,   Datok Penghulu beserta isterinya buk Ainul menanggis, sehingga kami juga ikut  menangis, sehingga pertemuan malam itu larut dalam kesedihan, seakan terjadi lomba menangis, karena semuanya menangis.

Apalagi saat kami menyerahkan  cendera mata kenangan buat keluarga Datok, suasananya tambah sedih, tangisan buk Datok  penuh keharuan menerima sedikit kenangan dari anak angkatnya yang telah bersama selama 30 hari.

Muhammad Akmal mewakili kawan-kawan kelompoknya mengucapkan  terima kasih  yang tulus kepada Datok beserta dan warga Tanjong Seumantok yang sudah menerima mereka sebagai anak angkat selama 30 hari.

Bahkan keluarga Datok sudah menganggap mereka sebagai anak sendiri.

Juga kepada nenek yang sudah sangat perhatian kepada kami,

Begitu juga ucapan terimakasih  kepada pemuda Karang Taruna Ttanjung Seumantoh  khususnya bang Agus yang selalu menemani kami di lokasi KKM.

Kepada bang Risky selaku ketua remaja mesjid yang selalu mengingatkan kami, kepada bang Pias yang selalu mau mengantar kami dengan becak kesayangannya.

Pokoknya banyak kenangan yang tidak bisa kami ceritakan dalam hitungan perputatan  jarum jam, bisa jadi cerita kenangan bersama mereka bisa berhari-hari, ungkapnya.

Juga kepada bang Apis  sudah menjadi imam kami selama sebulan, kepada bang Adli juga  sudah kami anggap sebagai abang kami.

Selain itu kepada bang Tio  walaupun orangnya cuek, tetapi sangat perhatian kepada kami.

Kepada bang Kitok, bang Ibal, kak Nanda dan lain yang sudah membantu kami dalam program KKM selama sebulan di kampung Tanjung Seumantoh.”

Banyak kesan dan kenangan bersama mereka, walaupun kami pendatang sebagai mahasiswa KKM, tetapi tidak pernah kami dibedakan, baik dalam  pergaulan maupun  kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kami tetap, dianggap oleh mereka sebagai warga masyarakat setempat, hal ini tentunya sebuah kemuliaan bagi kami, ungkap M.Akmal.

Menurut M.Akmal mereka setelah Idul Fitri akan berkunjung lagi ke kampung tersebut, karena ada undangan pesta dirumah samping rumah pak Datok, kami sudah dikirim undangannya, Insya Allah kalau tidak ada halangan kami akan hadiri datang, ujar Akmal penuh semangat.

Semoga kedatangan kami menghadiri acara pesta salah seorang warga, nantinya bisa kami manfaatkan bersilaturahni dan maaf-maafan di bulan Syawal ini dengan warga, ujar M.Akmal didampingi beberapa temannya yang lain seperti  Fulka Tartila, Intan Rizki Farazilla, Nailul Farizki dan  Syifaul Husna.