Pahit di Awal, Manis di Akhir
Saat pertama melihat pengumuman yang dikeluarkan pihak kampus tentang lokasi Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Angkatan XXVI Tahun 2025, secara tiba-tiba muncul perasaan gelisah, betapa tidak jangankan pergi, mendegar lokasi saja sudah muncul perasaan yang aneh-aneh.
Kemudian saya menceritakan sama keluarga, sahabat dan teman lain, tanggapan mereka beragam, tapi semuanya bukan meringankan pikiran, tetapi makin ruwet tambah pahit mendengarnya.
Pokoknya kalau mendengar ceritanya, tidak ada yang nyaman, malah tambah pahit dan susah, ada yang mendukung tapi ujung-ujungnya tetap ada kata "Kasihan ya" kali ini lokasinya jauh.
Seperti disampaikan kawan-kawan dekat“ wahh... pasti seru dong ikut KKM”, “ tapi sayang kali ini, jauh yaa?? Lokasinya ke Aceh Tamiang”, disana pasti nanti desanya cuma kebun sawit, dan jauh dari kota”, ungkap mereka, menceritakan pengalamannya mendengar ucapan dari sahabat-sahabat dan kakak letingnya.
Bahkan suara tersebut juga terdengar dari kawan-kawanya yang tidak ikut KKM tahun ini, mereka buka memberi semangat, malah memicutkan semangat kita, ujar Mikkial Muna dengan mimik wajah sedikit kecewa.
Pokoknya tantangan yang saya hadapi untuk mengikuti KKM tahun ini (2025), terus bermunculan secara beragam, padahal baru ingin mendaftar.
Tetapi karena tekad sudah bulat, “ pokoknya saya harus bisa ikut KKM tahun ini, berbagai ocehan kawan, sahabat, besti tidak saya hiraukan”, ungkap Mikkial Muna, sering disapa Miki oleh teman-temannya.
Tantangan tersebut teryata juga dialami peserta lain, yang satu kelompok dengan Miki. Hal tersebut diketahui, saat mereka sudah berada di lokasi KKM, mereka saling cerita pengalaman saat awal ingin mendaftar.
Seperti disampaikan Al Faratul Zuhra mahasiswi prodi Informatika bersama Dara Fonna prodi PGSD, menurut mereka berdua, saat mau mendaftar, banyak komentar yang hampir saja meluluhkan semangatnya untuk ikut, karena lokasinya jauh.
Hal senada juga diceritakan Salsabila (prodi Admistrasi Publik) dan Mursyida mahasiswi prodi Informatika, menurut mereka, saat awal-awal mau mendaftar ikut KKM, semua ngomong lokasinya terlalu jauh, banyak lagi yang mereka cerita, padahal mereka sendiri tidak pernah ke sana (Tamiang), ungkap mereka jengkel.
Tetapi lain lagi cerita Farhan Aulia mahasiswa prodi Teknik Sipil, “ Saya tidak peduli segala omon omon orang, karena saya punya prinsip, yang namanya pengabdian, tentunya dimanapun lokasi dan bagaimana situasi lapangannya kita harus siap”, ucap Farhan Aulia penuh semangat.
Ya, pokoknya kita harus bisa ikut KKM tahun ini, jangan peduli omongan orang lain, karena yang mengalaminya di lokasi KKM, kan kita," tambah Muhammad Fikri Al Munawar dan Najiwa Islami menyemangati kawan lain.
"Ya, saya setuju, karena saya juga ingin kuliah selesai tepat waktu", dukung temanya yang lain Al Faratul Zuhra dan Dara Fonna, yang sempat juga mengalami situasi pahit saat mau mendaftar.
Berbagai perasaanpun muncul, seperti cemas, bagaimana situasi dan kondisi sebenarnya di kampung lokasi KKM.
Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran, apakah masyarakat disana akan welcome dengan kami, bagitu juga tetangga sekitar tempat tinggal kami, baik atau tidak, bagaimana bapak ibu Datok Penghulu menerima ngak kami, atau banyak lagi perasaan dan pikiran kecemasan yang lain.
Pokoknya pikirannya terasa pahitlah, apalagi saat mengingat- ingat dukungan orang-orang dengan omon omon mereka kepada kami yang mau mengikuti KKM Angkatan XXVI ini, ujar Mursyida setengah gelisah.
Itu adalah hal yang wajar, karena penetapan lokasi KKM Universitas Almuslim Angkatan XXVI tahun 2025, baru pertama sekali dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang, sebuah kabupaten di Provinsi Aceh yang berbatasan dengan Sumatera Utara.
Jadi wajar ada omongan orang lain, karena lokasinya jauh dibandingkan lokasi yang sudah pernah dilaksanakan KKM Umuslim selama ini.
Jangankan orang luar kampus, kalangan internal kampus juga sempat, memunculkan kekhawatiran pemilihan lokasi KKM di Aceh Tamiang.
Tetapi pembicaran internal kampus tentang lokasi KKM di Aceh Tamiang, tidak seheboh pembicaran "Isu Indonesia Gelap" di Jakarta, tapi ini hanya sedikit bisik sepoi-sepoi angin lalu saja.
Hal ini wajar, karena selama ini lokasi KKM Universitas Almuslim, selalu seputaran kabupaten Bireuen, Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, juga pernah di Aceh Utara, maka wajar adanya isu-isu kekhawatiran dan menakutkan mahasiswa, bila di laksanakan dilokasi yang agak sedikit jauh dari biasanya.
Penetapan tersebut merupakan hasil keputusan rapat unsur pimpinan Universitas Almuslim dengan lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang merupakan pelaksana KKM.
Penetapan lokasi pelaksana KKM Universitas Almuslim Angkatan XXVI yang mengambil tema “Optimalisasi Teknologi, Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa” tersebut, tentunya telah memperhatikan sejumlah pertimbangan, baik kepentingan lembaga, kemajuan mahasiswa dan kemanfaatan bagi daerah tersebut.
Kebetulan kami satu kelompok berjumlah delapan orang, yaitu Farhan Aulia (Teknik Sipil), Muhammad Fikri Al Munawar (Agroteknologi), Najiwa Islami (PGSD/), Al Faratul Zuhra (Informatika), Salsabila ( Admistrasi Publik), Dara Fonna (PGSD), Mikkial Muna (Pendidikan Bahasa Inggris), Mursyida (Informatika).
Kami ditempatkan di kampung Bandar Baru kecamatan Bendahara Aceh Tamiang sebagai lokasi KKM, kampung tersebut jangankan berkunjung, mendengarpun kami belum pernah, ungkap Al Faratul Zuhra
Kampung Bandar Baru, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan luas wilayah 1.250 km², dihuni 490 KK dengan jumlah penduduk 1.257 jiwa.
Mata pencaharian masyarakat terdiri, petani, pekerja kebun sawit dan nelayan, semenjak dahulu penduduk Bandar Baru juga banyak sebagai nelayan.
Pengalaman ketika pertama kali kami menginjakkan kaki di kampung yang dihuni mayoritas Puak Melayu, ternyata tidak seseram dan menakutkan seperti di omon-omon oleh orang-orang sebelum kami berangkat.
Semua ketakutan dan kecemasan yang kami alami sejak mau mendaftar, sampai naik bus dimalam keberangkatan semua hilang tanpa bekas, seakan terembus angin sepoi-sepoi di malam keberangkatan yang cerah, secerah harapan impian yang ingin kami wujudkan.
“ Saya sempat teringat pepatah Aceh, Jak Butrok kalon budeuh bek rugou meuh saket Ate”, ungkap Mikkial Muna sambil ketawa.
Itu berarti kita harus cek ricek dulu, janganlah cepat percaya dengan omongan orang, kalau memang belum tahu informasi, kondisi dan situasi suatu tempat, kita harus teliti dulu sebelum kita percaya omon-omon orang, jelas Farhan Aulia yang didaulat jadi ketua kelompok KKM kampung Bandar Baru.
Sesampai di kampung yang dihuni dominan Puak Melayu tersebut, kami disambut dengan ramah penuh persaudaraan, kedatangan kami ibarat pulangnya keluarga yang mereka rindukan yang sudah lama berpisah.
Kenyataan tersebut tentu sangat berbeda dengan isu sas sis, sus tentang jauhnya lokasi KKM, setelah mereka sampai di lokasi, semuanya berubah 180 derajat dari pemikiran omon-omon orang tersebut.
Kami semua berkumpul di kantor Datok Penghulu yang menjadi tempat berdiskusi dan menjalankan proker KKM selama 30 hari di Kampung Bandar Baru.
Disaat itulah kami membuktikan rumus terbalik omon-omon orang terhadap penetapan lokasi KKM di Aceh Tamiang, apa yang telah menjadi kecemasan dan ketakutan pada diri kami sebelum berangkat, semua terjawab, saat kami berada di kantor datok penghulu.
Di kantor tersebut kami merasakan semangat persaudaran, kekeluargaan serta belaian perhatian dan kasih sayang dari warga kampung Bandar Baru menjadi salah suatu hal yang sangat kami syukuri, ujar Mikkial Muna yang menjadi juru bicara kelompok KKM kampung Bandar Baru.
Selama disana kami dijaga oleh sosok yang kami anggap orang tua kami sendiri, ada buk Hera, merupakan pemilik rumah yang kami tempati selama dilokasi, juga ada buk Nani tetangga rumah singgah kami.
Kemudian kebaikan Pak Datok Andrianda, SH beserta istrinya Qudrati Nisa, yang selalu menjaga, memperhatikan dan menasehati setiap langkah yang kami jalankan, kadang juga menegur kami jika ada kesalahan.
Lalu buk Hajar, anggota ibu PKK, sangat peduli dengan kami, terakhir bapak Junet selaku Sekdes kampung Bandar Baru beserta istrinya buk Asnidar, jelas Farhan Aulia.
Kehadiran kami di kampung Bandar Baru untuk mengikuti program pengabdian KKM merupakan perjalanan yang tidak bisa kami lupakan begitu saja, ini tentunya menjadi kenangan dan pengalaman berharga selama masa studi bahkan untuk hari nanti,ujar Dara Fonna.
Perasaan senang dan kehangatan, sejak pertama menginjakkan kaki di kampung Bandar Baru, terus mereka rasakan, begitu juga saat berinteraksi langsung dengan warga, baik ortu, pemuda maupun anak-anak.
Mereka juga sering terlibat dan berbaur dengan masyarakat, saling bergotong royong, bekerjasama membantu warga dalam setiap kegiatan kemasyarakatan dan sosial, seperti acara pesta pernikahan di kampung Bandar Baru.
Selain itu mereka juga mempelajari, berbagai makanan khas Tamiang, yang sering dihidangkan pada acara pesta pernikahan, makanan tersebut bernama "Sambal Serai dan Kuah Keladi " menjadi ciri khas makanan di Aceh Tamiang, kami sempat diajarkan langsung cara membuat makanan tersebut, tambah Najiwa Islami dengan gembira.
Selain itu mereka berinteraksi belajar bahasa lokal Tamiang, banyak warga secara sukarela mengajarkan percakapan dengan logat Bahasa Aceh Tamiang.
Rasa bangga dan bahagia mereka tunjukkan, saat kami mulai coba-coba mengucapkan kosa kata bahasa lokal (Aceh Tamiang) saat berbicara dengan mereka, tambah Najiwa lagi.
Karena baru belajar, tentunya kami banyak mempunyai kesalahan dan kekurangan, tetapi mereka dengan sabar menuntun kami memperbaiki pengucapan setiap kesalahan.
Kadang kesalahan saat berucap kata dalam logat Tamiang, jadi lucu sehingga jadi bahan candaan, sehingga timbul ketawa dan menjadi hiburan bagi kami.
Dukungan dari masyarakat serta bapak ibu Datok Penghulu sangat berdampak terhadap suksesnya pelaksanaan program KKM yang kami laksanakan di kampung Bandar Baru.
Ditambah antusias dan semangat warga telah menumbuhnya benih-benih keakraban dan persaudaraan, ini tentunya menjadi momen berharga bagi kami dalam menjalankan setiap program kerja KKM, sehingga membuahkan hasil manis setiap program yang kami jalankan.
Keakraban dan persaudaraan itulah menjadi penghambar omon-omon yang telah menghantui pikiran kami sebelum berangkat.
Rasanya kepahitan pikiran yang tidak menentu saat awal keberangkatan, telah terbayar lunas dengan setenguk senyuman manis yang keluar dari celah-celah setiap bibir warga kampung Bandar baru saat berjumpa kami.
Seiring perputaran waktu, kedekatan kami dengan warga, baik ortu, pemuda dan anak-anak terus lengket dalam nuansa persaudaraan dan kekeluargaan, sehingga munculnya perasaan kami untuk terus bisa menetap di kampung Bandar Baru.
Perasaan haru itu datang ketika mendengar kesedihan mereka atas kepulangan kami yang akan tiba dalam hitungan hari.
Satu bulan ternyata terasa begitu singkat, merasakan kehidupan menjadi anak kost, juga suatu pengalaman baru yang saya rasakan selama satu bulan ini.
Banyak kenangan dan pengalaman yang kami dapatkan selama melaksanakan KKM, seperti untuk mengasah kemampuan memasak dan kemandirian selama berada di lokasi.
Mencoba aksi memasak beragam jenis resep masakan yang selama ini kami nikmati dengan keluarga. Selama KKM harus kami buktikan bualan kami punya keahlian masak dengan terjun langsung menjadi Chef, untuk hidangan makan bersama, ini tentunya menjadi sebuah momen yang akan selalu menjadi kenangan.
Pengabdian KKM menjadi momen senang, susah, khawatir, panik, sedih secara bersama- sama, tentunya suka duka ini merupakan hal yang tidak dapat dilupakan begitu saja.
Banyak hal dan pelajaran baru yang muncul di lapangan, tentunya menjadi hal yang sangat menyenangkan. Apalagi melakukan setiap kegiatan dengan kebersamaan, saling membantu, mendukung dan saling memberikan semangat antar anggota kelompok merupakan wujud rasa semangat kekeluargaan dan persaudaraan.
Pengalaman adalah guru terbaik, begitu kira-kira kalimat yang tepat untuk cerita pengalaman kami selama mengabdi pada program Kuliah Kerja Mhasiswa (KKM).
Kami mengucapkan rasa syukur atas momen pengabdian ini, karena telah dapat merasakan sebuah kehidupan baru dengan anugerah persaudaraan dan kekeluargaan.
Paling tidak melalui pengalaman KKM di kampung Bandar Baru, Kec. Bendahara, Kab. Aceh Tamiang, kami memiliki kisah perjalanan untuk diceritakan pada anak-cucu nantinya.
Saat kami berpamitan untuk pulang, suasana haru diiringi suara tangisan menyelimuti suasana akhir keberadaan kami di Kabupaten dengan moto “Kaseh Pape, Setie Mati”.
Hal tersebut seperti tertulis pada logo Aceh Tamiang, yang memiliki makna “Kehidupan yang rela berkorban saling tolong menolong (nyeraye) dengan penuh tanggung jawab dan kesetiaan kekal tanpa pamrih”.
Sebelum kami berangkat untuk pelepasan di kantor Camat, kami menangis saat minta izin kepada Ibu Hera dan Ibu Nani, mereka memeluk badan kami yang cukup erat, seakan tidak mau melepas kami untuk kembali.
Air mata kami tak terbendung bercucuran yang terus membasahi pipi sampai baju dan jilbab kami basah, hal tersebut karena kesedihan yang terus menyelimuti hati kami, karena harus meninggalkan kampung tersebut, yang telah kami huni selama 30 hari.
Di kantor kecamatan, kami berpamitan dengan Pak Datok, Sekdes, dan Ibu Datok, suasana haru juga tidak bisa sembunyikan, sambil menangis buk Datok dengan penuh kasih sayang memeluk kami satu persatu.
Saat pelukan tersebut kami merasakan ketidakrelaan buk Datok yang sudah seperti orang tua kami sendiri, untuk berpisah dengan kami.
Perpisahan ini bukan hanya meninggalkan tempat, tapi juga meninggalkan momen kenangan yang sudah terjalin selama kami disana. Banyak momen manis yang menjadi kenangan tak terlupakan kami tinggalkan.
Karena selama kami di lokasi KKM bukan hanya sekedar mahasiswa peserta KKM, tetapi kami sudah seperti menjadi penduduk setempat dan keluarga mereka.
Semoga suatu waktu nanti kami bisa kembali ke desa Bandar Baru, desa yang telah memberi banyak pelajaran dan inspirasi bagi kami.
Akhirnya kepahitan yang kami rasakan saat awal keberangkatan menjadi kenangan manis yang tidak terlupakan di akhir pengabdian.
Pokoknya kenangan kami bukan kenangan "Sarimanis" yang manis di awal pahit di ujung.
Tetapi kenangan dari pengalaman kami, tentunya menjadi, "Pahit dan sulit di Awal, tapi Manis di Akhir", Ujar mereka sambil melambaikan tangan dari celah-celah jendela bus yang membawa mereka kembali ke kampus.
Terimakasih semuanya…..Wassalam.