Ada kisah unik dialami mahasiswa peserta KKM Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan Angkatan XXVI yang ditempatkan di kampung Bandar Khalifah Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang baru-baru lalu.
Kejadian tersebut sempat viral di medsos dan telah memberikan banyak pelajaran berarti dan kenangan yang abadi bagi mereka.
Menurut cerita Mukrim, ketua kelompok KKM kampung Bandar Khalifah Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, pada suatu hari, tepatnya Minggu ke-2 keberadaan mereka di lokasi KKM, mereka berencana untuk berdiskusi tentang pelaksanaan proker SIGAP yang sudah di rencanakan.
Sebelum program dimulai, mereka terlebih dahulu ingin mengunjungi orang tua
Dina yang merupakan teman satu kelompok mereka, beliau tinggal di Desa Masjid, Kecamatan Manyak Payed Aceh Tamiang.
Mereka berjumlah delapan orang berasal dari berbagai prodi seperti Mukrim (Prodi Akroteknologi Fakultas Pertanian), Irham Zikri (Teknik Sipil), Andina Mulia Nanda (Pendidikan Bahasa Inggris), Widia Mardhatillah (Prodi Administrasi Publik), Anita (Prodi PGSD), Natasya Sahira (PGSD), Riska Rahayu (Informatika) dan Izzatul Riskia (Informatika).
Untuk alat transportasi ke Kampung Manyak Payed, mereka menyewa becak barang milik warga setempat.
Setelah menyewa becak, Mukrim dinobatkan sebagai driver, dalam perjalanan lebih kurang 10 KM becak bergerak berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata 60 kilometer/jam.
Tanpa aba-aba, kecepatan becak diatas rata-rata, sesampai di kawasan kampung Matang Seping, saat mengelak tumpukan pasir, sang driver tidak mampu mengontrol keseimbangan stang becak, sehingga becak oleng dan masuk parit, bruu..uurr, semua penumpang juga ikut terseret masuk kedalam parit.
Parit lebarnya lebih kurang 3 meter dalamnya sekitar 2 meter, berisi air buangan yang kotor dengan lumpur yang gembur, sisi kiri kanan ditumbuhi rumput liar dan sampah, bisa kita bayangkan warna air dan baunya, "Masya Allah".
"Alhamdulillah semua penumpang, tidak ada yang parah, hanya beberapa orang lecet-lecet saja, hanya Irham Zikri dari prodi Teknik Sipil, lututnya sedikit tergeser", ujar Mukrim.
Kemudian mereka di bantu oleh sejumlah warga yang lewat, membantu menarik mereka dan becak dari dalam parit ke atas badan jalan.
Setelah semua berada di atas jalan dengan kondisi basah dan berlumpur, semua mereka bukan sedih, malah saling ketawa dan mentertawai kawan satu sama lain.
Hal ini, karena kondisi kami yang awut-awutan, warna baju almamater Umuslim berwarna hijau yang kami pakai menjadi warna hitam penuh lumpur.
Wajah kami juga ikut berubah basah dan berwarna hitam karena terolesi lumpur, padahal sebelum berangkat kami sudah bersolek dengan pakek bedak, lipstik dan juga semprotan parfum wangi, akibat nyemplung ke parit, semuanya berubah jadi warna hitam dan baunya juga "Masya Allah" jadi berbau air got dan bau lumpur, cerita Riska Rahayu dan Izzatul Riskia sambil tersenyum geli.
Irham Zikri salah seorang penumpang ketika ditanya kronologis sampai becak yang mereka tumpangi nyemplung ke parit juga bercerita.
Menurut Irham, saat perjalanan menuju ke kampung Manyak Payed, saat itu dia duduk di belakang supir, dengan posisi saya menghadap ke belakang, sambil nyantai menghirup sebatang rokok.
"Tiba-tiba kawan yang cewek menjerit "awaa...s" kemudian saya merasakan becak berat sebelah dan ketika saya liat ke depan, akhirnya bruuu...rrr semua kami udah dalam parit, cerita Irham Zikri sambil ketawa.
Kejadiannya sangat cepat, tanpa sempat saya berpaling kedepan dan berjaga diri, becak sudah nyemplung ke parit, ujar Irham.
Sedangkan Irham Zikri, saat ban becak masuk parit, bersamaan badannya juga jatuh ke dalam parit, kepalanya sempat tenggelam dalam tanah.
"Kepala saya jatuh duluan, posisinya seperti huruf r, saat saya tarik kepala nyangkut di tanah dan kaki keatas badan teman saya, sedangkan rangka becak menimpa badannya, cerita Irham sambil memperagakan gaya jatuhnya dia kedalam parit.
" Setelah itu saya langsung tahan nafas, mencoba untuk menarik kepala, karena sudah masuk kedalam air parit dengan tanah sedikit gembur, saat itu sempat juga saya menghirup air kotor parit itu", tambah Irham Zikri lagi sambil mengerutkan keningnya.
Setelah saya tarik kepala dari lumpur, kawan-kawan semua tertawa terkekeh-kekeh, karena wajah saya sudah berwarna hitam seperti doktif, akibat terkena lumpur parit, ujar Ikram sambil ketawa geli.
Semua mereka bukan lagi merasakan sakit, tetapi sudah ketawa melihat kondisi Irham Zikri yang sudah berwajah kotor dan rambutnya juga penuh lumpur.
Apalagi rambut Irham Zikri berjenis kribo, lengkap sudahlah kondisi wajah dan rambut kribo ter olesi lumpur parit berwaran hitam.
Kemudian Andina Mulia Nanda dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris didampingi Widia Mardhatillah (Administrasi Publik dan Anita (PGSD) juga ikut menceritakan kronologis mereka sampai masuk parit bersama becak yang ditumpanginya.
Mereka semuanya mengaku sangat trauma kalau mengingat kejadian yang menimpa kelompok mereka, betapa tidak, lagi asyik menikmati kondisi kampung lokasi KKM yang nyaman dan persiapan menjalankan program KKM, akhirnya timbul trauma yang tidak bisa dilupakan, ungkap mereka.
Menurut Andina Mulia Nanda, kronologis kejadian tersebut, saat itu dia bersama teman-teman cewek kelompok KKM ikut jadi penumpang becak, mereka duduk lesehan di lantai becak, becak melaju agak sedikit kencang.
Saya merasakan saat becak disopiri Mukrim, jalannya agak goyang-goyang, rencana saya mau nyuruh tukar sopir, tiba-tiba bruuurr... kami sudah masuk parit, cerita Andina Mulia Nanda sambil tersenyum malu.
"Saya mengalami sedikit cedera di bagian paha juga lutut, ujarnya sambil memegang lutut yang sedkit lecet.
Setelah kejadian tersebut, semua kami merasa ketakutan, karena tidak berani pulang ke rumah singgah kami di kampung Bandar Khalifah.
Apalagi kejadiannya sempat viral di medsos, baik di Istagram, tiktok maupun Fb.
Kami takut dimarahi sama Datok Penghulu dan yang punya becak, apalagi kami pendatang, ujar Andina Mulia Nanda.
"Kami benar-benar sangat takut dengan kejadian ini, takut dimarahi oleh pak Datok Penghulu", ujar Mukrim.
Setelah kami bangun dan membersihkan alakadar pakaian dan wajah kami, kemudian kami menghubungi Bang Aidil Syahputra.
Bang Aidil atau lebih populer kami memanggil Bang Bedul, beliau aparatur kampung Bandar Khalifah, termasuk salah seorang tangan kanan Datok Penghulu kampung Bandar Khalifah.
Setelah menerima kabar kami kecelakaan, Bang Aidil langsung meluncur ke TKP, setelah itu becak di bawa ke bengkel, kami menumpang becak lain dibawa pulang oleh bang Aidil ke kampung Bandar Khalifah.
Setelah sampai di rumah singgah, kami bersihkan diri dan mengganti pakaian yang sudah basah dengan air parit dan berlumuran lumpur.
Setelah itu, kami minta izin sama Bang Aidil agar bisa mengantar kami kerumah Anita untuk bisa diobati ekses dari kecelakaan becak tersebut.
Kebetulan Anita salah seorang teman satu kelompok kami warga asli Aceh Tamiang, kampungnya di Mayak Payed, sekitar 10 menit perjalanan dari lokasi kami tinggal.
Kebetulan orang tua Anita sangat prihatin dengan kejadian tersebut, mereka mengutus becak dari Mayak Payed untuk menjemput kami, agar bisa diobati dirumahnya.
Kami berada di rumah orang tua Anita di Mayak Payed sehari semalam untuk di obati lecet-lecet dan sejumlah sakit yang kami alami.
Setelah itu kami pulang di jemput oleh bang Aidil Syahputra, dengan baik hati beliau menjemput kami dibawa pulang ke kampung domisili selama KKM, sekaligus untuk menjumpai pak Datok Penghulu, guna meminta maaf atas kejadian tersebut.
Dari rumah Anita kami ditemani bang Aidil langsung kerumah pak Datok Penghulu untuk meminta maaf atas kejadian tersebut.
Kemudian kami dihukum, kami tidak boleh lagi mengendarai becak dan kalau pergi kemanapun harus di dampingi oleh bang Aidil.
Apalagi kalau ada kegiatan kampung
acara² tertentu seperti pengajian, rapat, dan lain-lain, kami kalau pergi harus minta izin dulu atau harus di dampingi bang Aidil.
Setelah kami melapor ke Pak Datok dengan sambutan ceramah dan hukuman dari pak Datok, legalah hati kami semua.
Karena sebelum kami berjumpa dengan pak Datok, hati kami tidak tenang, pikiran juga gelisah, karena berpikiran apa hukuman yang akan diberikan untuk kami.
Kami terus berdoa agar kami tidak dipulangkan ke kampus sebelum habis masa pengabdian KKM, karena kami menyadari bahwa kami telah berbuat kesalahan.
Kejadian itu telah menyadarkan kami agar tetap berhati-hati dalam berkenderaan dan juga tata krama bagi kami untuk selalu memberitahukan pada tuan rumah kalau ingin pergi kemana-mana.
Terimaksih Bang Bedul yang telah membantu dan mendampingi kami, sehingga kami sangat kuat ketika berhadapan dengan pak Datok, kalau tidak mungkin kami akan menangis dan kami akan dipulangkan sebelum KKM berakhir.
Kami sangat berterima kasih kepada beliau karena sudah banyak membantu kami dalam hal apapun selama berjalannya kkm di kampung Bandar Khalifah.
Kami berharap silaturahmi ini tidak akan terputus, walau kami sudah kembali ke kampung masing-masing, harap mereka.
Kami semua tidak tahu cara membalas jasanya Bang Bedul, kami selalu berdoa untuk dia semoga tetap sehat dan selalu mudah rezeki.
Kami merasa berat hati meninggalkan kampung Bandar Khalifah, masyarakatnya sangat baik, perangkat kampung juga baik-baik, seperti Bang Aidil.
Bang Aidil atau Bedul, dengan senyum khasnya, saat perpisahan, beliau bilang gini, "Yang penting kalian tidak melupakan desa ini dan sukses untuk semuanya ." Pesan Bang Aidil kepada kami mahasiswa KKM saat berpamitan, ujar Riska sedih.
Bang Bedul, percayalah kami tetap mengenang atas jasamu kepada kami selama melaksanakan KKM, semoga bang Bedul juga tidak pernah lupa pada kami, ucap Mukrim didampingi Widia mewakili teman-temannya.