"Dari Bireuen ke Kampung Upah : Cerita Pengabdian Tak Terlupakan"

From Bireuen to Kampung Upah: An Unforgettable Story of Service

Perjalanan panjang dari Kabupaten Bireuen menuju Aceh Tamiang, terasa penuh kelelahan untuk menghadirkan semangat pengabdian,  merekatkan nilai-nilai persaudaraan dan persahabatan sehingga tumbuhnya rasa kasih sayang diantara mereka.

Salah satu aksi nyata untuk terwujudnya semua itu, mahasiswa Universitas Almuslim, memulai  mengikuti salah satu Mata Kuliah dalam kemasan pengabdian melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Kabupaten Aceh Tamiang.

Seperti disampaikan koordinator program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Drs. Syarkawi, M.Ed, salah satu tujuan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim  untuk membentuk kepribadian mahasiswa sebagai kader pembangunan dengan wawasan berpikir luas, sehingga nantinya setelah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi, mahasiswa  siap  dalam memasuki lapangan kerja atau sebagai kader-kader pembangunan.

Pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Angkatan XXVI Tahun 2025, berlangsung di Aceh Tamiang, selama 30 hari, mulai 22 Januari hingga 20 Februari 2025, mereka ditempatkan pada  75 desa dalam 7 kecamatan, urai Drs.Syarkawi,M.Ed.

Dari pelaksanaan tersebut tentunya bagi peserta akan menjadi pengalaman dan  akan bisa  menjadi sebuah cerita dimasa yang akan datang.

Melalui tulisan ini, kita ingin melihat berbagai hal mulai kesan, pesan, kenangan, pengalaman, program serta  tantangan, baik antar anggota kelompok, maupun berbagai hal  kemasyarakatan  yang telah  mereka lalui, selama  satu bulan berada di lokasi pengabdian.

"Kelompok kami, kebetulan  ditempatkan di kampung (desa) Upah kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang. 

Di lokasi itulah banyak munculnya  berbagai tantangan, benih-benih  kenangan, kebersamaan, persaudaraan dan  pengalaman baru yang tidak terlupakan", Cerita Husni Mubaraq, ketua kelompok KKM kampung Upah usai acara penjemputan di halaman kantor Bupati Aceh Tamiang, Kamis (20 Februari 2025).

Cerita pengalaman dan kenangan selama pelaksanaan KKM, tidak hanya dialami Kelompok  yang melaksanakan  KKM di Kampung Upah saja.

Tentunya  banyak kampung yang lain juga mengalami hal serupa, tetapi pada kesempatan ini hanya mengulas pengalaman di alami oleh mahasiswa KKM penemlatan di kampung Upah kecamatan Bendahara dulu.

Lain waktu mungkin juga akan muncul cerita kenangan dan pengalaman yang tidak bisa dilupakan dan tidak bisa di ulang lagi dari kampung lokasi KKM lainnya.

Sebenarnya hilal kenangan  tersebut sudah mulai tampak, pada waktu keberangkatan, saat sejumlah mobil  rombongan terparkir berjejer, di  halaman kampus Umuslim  Matangglumpang dua yang akan membawa peserta Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim Angkatan XXVI menuju Aceh Tamiang.

Pada malam keberangkatan itulah, saat roda bus berbadan ramping mau  bergulir, setiap kelompok  rata-rata berjumlah delapan orang, sudah mulai saling menyapa, saling membantu menaikkan barang perbekalan ke atas kap bus.

Selain itu mereka juga saling membantu, berdiskusi, juga saling menyanyangi dan  mengingatkan antara satu sama lainnnya terhadap berbagai bahan bawaan dan informasi lainnya.

Padahal selama ini tidak saling kenal, karena memang anggota kelompok berasal dari latar belakang Program Studi dan Fakultas berbeda, juga tentunya  keluarga dan kampung asal yang berbeda, bahkan diantara satu kelompok  mereka juga ada suku dan bahasa yang berbeda, walaupun mereka satu almamater Universitas Almuslim.
Dengan perbedaan  latar belakang itulah menjadi tunas-tunas tumbuhnya benih perkenalan, persaudaraan, persahabatan dan saling melihat, saling menyanyangi serta saling membantu diantara peserta untuk suksesnya sebuah pengabdian, bahkan mungkin menuju persahabatan abadi.

Pokoknya semangat saling asah, asih dan asuh di area pengabdian dalam nuansa persaudaraan sudah mulai terasa saat malam keberangkatan, semangat itulah  merupakan kunci untuk meraih sebuah kesuksesan.

Ditambah suasana  hadirnya sejumlah orang tua, kakek, kakak, adik, kerabat, besti dan yang tersayang lainnya dari setiap peserta, untuk mengantar dan mendoakan keselamatan dan kesuksesan. 
Ini tentunya merupakan suatu kehangatan luar biasa bagi peserta yang akan berangkat ke Medan pengabdian.

Sehingga suasana tersebut telah memunculkan aura kenangan dibalik remang-remang cahaya  yang terpancarkan dari sejumlah bola lampu listrik setiap sudut kampus.

Perjalanan ke lokasi dengan durasi perjalanan lebih kurang membutuhkan waktu 5 Jam, dalam balutan jaket almamater warna hijau berlogo Universitas Almuslim, di atas perputaran roda bus yang membelah  ruas jalan Nasional Banda Aceh - Medan menuju ke Aceh Tamiang, mereka nikmati malam dengan indahnya mimpi kebersamaan dan persaudaraan. 
Sesampainya di Aceh Tamiang, kejutan manis sudah menanti, mereka disambut penuh kehormatan di Kantor Bupati Aceh Tamiang, dengan sebuah  upacara  seremonial tingkat pemerintah Kabupaten.

Seremonial ini  tentunya memberi sebuah kesan mendalam, bahwa  kehadiran mereka sangat dinantikan oleh pemerintah dan masyarakat di Aceh Tamiang. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Kantor Camat, disitu diadakan  upacara penyerahan secara sederhana yang dilakukan   koordinator DPL kepada Camat masing-masing kecamatan.

Setelah mendapat arahan dan gambaran tentang desa, selanjutnya peserta KKM di kampung Upah Kecamatan Bendahara diserahkan  kepada  Pak Maula Zikri selaku  Datok Penghulu (Kepala Desa) yang akan jadi orang tua angkat selama mereka di lokasi KKM.

Hal yang sama juga dilakukan kepada Datok Penghulu lainnya sesuai lokasi kampung penempatan mahasiswa KKM Universitas Almuslim.

Kampung Upah sendiri merupakan desa yang kaya akan sejarah dan budaya, terletak di ujung barat Kecamatan Bendahara, desa ini dikenal sebagai pintu gerbang kecamatan. 

Menurut historis, dahulu pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini merupakan perkebunan Lada milik Pemerintah Hindia-Belanda.

 Banyak orang dari berbagai daerah datang berbondong-bondong untuk menjadi buruh di perkebunan tersebut.

 Dalam bahasa Belanda, para pekerja ini disebut OPAS, yang berarti orang yang mencari upah.

 Dari sinilah nama Kampung Upah berasal, karena desa ini menjadi tempat di mana banyak orang bekerja untuk mencari nafkah. Hingga kini, nama itu tetap melekat dan menjadi bagian dari identitas sejarah desa.

Puncak kehangatan dan keharuan  yang dialami peserta  KKM kampung Upah kecamatan Bendahara,  saat mereka tiba di Kampung Upah lokasi yang menjadi kampung mereka selama satu bulan kedepan.

Saat berada di kampung tersebut, mendapat sambutan  luar biasa dari Pak Maula Zikri Keuchik (Kades), kalau di Aceh Tamiang   lebih dikenal dengan sebutan  "Datok Penghulu".

Saat perkenalan dan penyambutan, di menit-menit awal keberadaan di kampung lokasi KKM, telah membuat hati kami tersentuh dan rasa bahagia.

Betapa tidak, pak Maula Zikri selaku Datok Penghulu, kampung Upah, menerima kami ibarat anak kandung sendiri.

"Keringat kecemasan  panas yang telah membasahi sekujur tubuh kami siang itu, seakan mencair mengalir seperti datangnya salju kebahagiaan dari kutub utara" ujar Husni Mubaraq ketua kelompok KKM kampung Upah.

Penyambutan dilakukan  Pak Maula Zikri Datok Penghulu kampung Upah, pada kami, bukan sekedar serimonial salam-salaman, juga bukan sekadar ucapan selamat datang, beliau bahkan langsung membawa kami makan malam bersama keluarganya, di sebuah cafe berkelas daerah tersebut.

 Padahal, kami baru saja tiba, belumpun kami mengenal beliau dan keluarganya secara dekat, namun keramahan dan kepedulian pak Maula Zikri selaku Datok Penghulu dan keluarganya,  membuat kami seolah sudah menjadi bagian dari keluarga dan warga  desa Upah sejak lama, ujar mahasiswa KKM kampung Upah. 

Melewati malam pertama yang penuh kehangatan dan kenangan, diawali perkenalan dan  makan malam bersama keluarga Datok Penghulu, esok harinya kami mulai beradaptasi dengan masyarakat dan  lingkungan sekitar.

 Salah satu hal yang kami syukuri adalah lokasi tempat tinggal kami yang sangat strategis, dekat dengan pasar dan pusat perkotaan kecamatan.

Hari-hari berikutnya  kami mulai beradaptasi dengan kehidupan desa, berinteraksi dengan masyarakat, dan memahami budaya setempat. 

Setiap senyum dan sapa mereka membuat kami merasa diterima dengan tulus. Perjalanan kami di Kampung Upah terus berputar seiring perputaran jarum jam  yang tidak pernah berhenti, sehingga terciptanya  berbagai kenangan dan pengalaman di kampung penuh historis tersebut.
Hal ini memudahkan kami untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta memudahkan membeli berbagai kebutuhan sehari-hari sebelum memulai program kerja kami.

Kami tinggal disebuah rumah milik nenek Wan Rosamani, yang merupakan orang tua dari pak Maula Zikri Datok Penghulu Kampung Upah.

Nenek Wan Rosamani, mempunyai 5 orang anak, 3 laki-laki dan 2 perempuan, semua anak-anaknya sudah dewasa dan tidak menetap rumah itu, semua anaknya punya rumah masing-masing.

Pada awal-awal  kami tinggal di desa, kami sempat mengalami tantangan suatu pengalaman dengan kejadian aneh yang sampai sekarang masih menjadi teka-teki, cerita Bella Zafina.

Ceritanya begini, ujar Bella Zafina didampingi temanya Zahratul Aini, mengawali cerita aneh tersebut, “Awalnya, kami duduk di teras rumah, berbincang santai sambil menikmati udara malam”.

Setelah cukup lama mengobrol, kami cewek-cewek masuk lebih dulu ke dalam rumah, diikuti Husni Mubarraq, yang langsung menuju kamarnya untuk bermain laptop sambil menunggu kepulangan kawannya, Al Abrarul Akmal.

Setelah beberapa saat menunggu dikamar, Husni merasa bosan, akhirnya memutuskan keluar kamar, pintu keluar rumah kebetulan berada di dekat kamar kami kamar Cewek.

 Begitu ia (Husni) keluar, pemandangan aneh terjadi, Akmal kawan Husni datang dari arah belakang rumah.

"Mal, ngapain lo dari belakang rumah?" tanya Husni heran. "Entahlah, tadi pas mau masuk, tiba-tiba aja pintu belakang terkunci. Jadi aku muter lewat samping rumah," jawab Akmal.

Akmal pun melanjutkan pertanyaannya, "Tadi di dapur siapa?". Husni mengernyitkan dahi.

 "Mana ku tahu? Semua orang udah masuk kamar, dan aku pun dari tadi di kamar nunggu kamu, Mal," jawab Husni sambil menatap tajam wajah Akmal.

Akmal mulai merinding, "Serius nih? Terus siapa yang kunci pintunya?". Kami semua terdiam sejenak dan merasakan hawa aneh yang tiba-tiba menyelimuti perasaan kami. 

Bagaimana bisa pintu belakang terkunci sendiri?, tambah  Husni dengan nada bertanya pada kami semua.

Sejak kejadian itu, kami mulai merasa merinding setiap melihat ke arah belakang rumah.

 Apalagi saat malam, suasana menjadi semakin mencekam. Kami bahkan bercanda kalau mungkin "kunti" yang mengunci pintu, Hehehe... meskipun kami tertawa, tetap saja ada rasa takut yang menghantui, ujar cewek-cewek yang saling berpegangan tangan duduk di kursi panjang ruang makan.

Siapa sebenarnya yang mengunci pintu belakang? Sampai sekarang, kejadian tersebut masih teka-teki, kami masih belum menemukan jawabannya.

Tetapi kami tidak hanyut  dengan bayang-bayang  kejadian itu, dengan semangat 46 kami  lawan semua teka-teki itu, dengan selalu melaksanakan sholat tepat waktu,  beribadah dan  berdoa, agar kami diberi keselamatan dan kelancaran dalam melakukan pengabdian di lokasi KKM.

Pada malam harinya, kami mengadakan diskusi bersama untuk membahas program kerja (proker) yang akan kami laksanakan besoknya.

Kami menyusun rencana dengan baik, memastikan bahwa setiap program dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. 

Berdasarkan diskusi tersebut, dengan semangat pengabdian dalam kebersamaan, kami siapkan semua kebutuhan untuk  memulai pengabdian, keesokan harinya, program kerja pertama kami resmi dimulai.

Sesuai skedul yang telah kami susun, program kerja kami mengunjungi Sekolah Dasar Upah untuk melakukan konfirmasi terkait beberapa program yang akan kami jalankan di sana. 

Sejumlah program kami laksanakan seperti pelatihan di SMP Negeri 2 Karang Baru.

Selain itu ada juga program tingkat sekilah Dasar, yaitu  membuat Kerajinan Tangan dari Stik Es Krim sebagai bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

 Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan siswa dalam membuat kerajinan tangan, serta melatih kesabaran dan ketelitian mereka dalam proses pembuatan produk.

"Meningkatkan kreativitas dan keterampilan siswa dalam membuat kerajinan tangan serta melatih kesabaran dan ketelitian dalam proses pembuatan produk," ujar Bella Zafina, salah satu anggota KKM dari Program Studi PGSD yang berperan dalam kegiatan ini
 
Tak hanya itu, Bella juga mengadakan kelas mewarnai untuk siswa kelas 1, sebuah kegiatan yang penuh keceriaan dan antusiasme. Wajah-wajah polos mereka terlihat begitu gembira saat mencoretkan warna-warna cerah di atas kertas, menciptakan berbagai gambar yang mencerminkan imajinasi mereka.

Hari-hari awal di Kampung Upah telah memberikan kami banyak pelajaran berharga. Keakraban dan persahabatan  dengan masyarakat semakin terjalin dengan erat, tunas-tunas kekeluargaan mulai tumbuh diantara kami dan masyarakat. Kami semakin semangat untuk menjalankan berbagai  program kerja KKM.

Setelah sukses menjalankan berbagai program kerja, perjalanan kami di Kampung Upah semakin dipenuhi dengan pengalaman berharga.

 Tak hanya berfokus pada program kerja, kami juga berusaha menjalin hubungan yang erat untuk berkolaborasi dengan kelompok KKM kampung lainnya. 

Salah satu momen yang sangat berkesan adalah makan malam bersama dengan kelompok dari Desa Simpang 4 Upah. 

Kebersamaan ini semakin mempererat hubungan kami sebagai mahasiswa pengabdi yang sama-sama memiliki tujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, kami juga mendapat kesempatan istimewa dari Bunda Datok, istri dari Datok Penghulu, yang mengajak kami untuk berkeliling di Taman Hutan Kota Langsa, yang jaraknya perjalanna lebih kurang setengah jam perjalanan. 

Lokasi yang kami kunjungi merupakan Objek wisata yang juga berfungsi sebagai salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Langsa.

Saat mengunjungi lokasi ini, sungguh suatu kebahagian bagi kami peserta KKM, karena semua akomodasi dan fasilitas perjalanan ke lokasi ditangung sepenuhnya oleh Bunda Datok, istri dari Datok Penghulu.

Apalagi selama ini kami hanya mendengar dan melihat melalui medsos lokasi ini, hari itu sudah dapat kami rasakan secara langsung dengan fasilitas ditanggung buk Datok.

Seakan saat itu kami seperti mendapat lailatul qadar kesenangan dan kebahagian yang luar biasa, kami semua  penuh semangat mengikuti dan menikmati  perjalanan ini, menjadikannya sebagai pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan.

Di taman ini, kami tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar banyak tentang flora dan fauna yang masih terjaga di kawasan tersebut.

 Beberapa hewan yang kami lihat secara langsung di sana antara lain landak, buaya, rusa, ular, monyet, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu.

 Pengalaman ini semakin membuka wawasan kami tentang pentingnya konservasi alam dan perlindungan terhadap satwa liar. 

Keesokan harinya, kami melanjutkan agenda dengan melakukan kunjungan dan silaturahmi ke rumah Tok Imam serta Pak Kadus (Kepala Dusun). 

Kunjungan ini menjadi momen penting untuk mempererat hubungan dengan tokoh masyarakat serta memahami lebih dalam tentang kehidupan sosial dan budaya di Kampung Upah.

Tak hanya itu, kami juga melakukan kunjungan ke salah satu UMKM unggulan di desa tersebut, yaitu Pabrik Batu Bata. 

Di sana, kami belajar mengenai proses pembuatan batu bata dari awal hingga siap digunakan. Kami juga melihat bagaimana para pekerja dengan tekun dan penuh keterampilan mengolah tanah liat menjadi bahan bangunan yang berkualitas.

Sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM lokal, kami berinisiatif untuk memperkenalkan dan mempromosikan pabrik batu bata ini ke berbagai platform media sosial serta masyarakat sekitar.

 Tujuan kami adalah agar semakin banyak orang, baik dari dalam maupun luar daerah, mengetahui bahwa Kampung Upah memiliki pabrik batu bata yang berkualitas dan dapat menjadi sumber ekonomi bagi warga setempat.

Hari-hari kami di Kampung Upah terus dipenuhi dengan kegiatan yang bermakna. Setiap pengalaman yang kami jalani tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga mengajarkan kami banyak hal tentang kehidupan, kebersamaan, dan pengabdian yang sesungguhnya.

Setelah sukses memperkenalkan dan mempromosikan pabrik batu bata Kampung Upah di berbagai platform media sosial.

Keesokan harinya, kami mendapat kunjungan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Bapak Zulkifli, M.Kom. Kedatangan beliau menjadi momen penting untuk berdiskusi dan menanyakan beberapa hal yang menjadi kendala proker kami, salah satunya sering macetnya akun SiGAP kampung tersebut.

Selain itu Pak Zulkifli juga meninjau sejauh mana program kerja (proker) kami telah berjalan di desa ini sesuai matrik yang telah kami susun.

Dengan penuh antusiasme, kami menjelaskan berbagai kegiatan yang telah kami lakukan, serta dampaknya terhadap masyarakat setempat.

Banyak koreksi dan berbagai masukan disarankan DPL Pak Zulkifli, berdasarkan evaluasi  dilakukannya, membuat kami harus kerja ekstra keras sampai malam hari, untuk tercapainya target isian program yang telah kami susun dalam lembaran matrik.

Kami diberi waktu besok pagi, semua lembaran matrik harus selesai dan siap ditandatangani pak Datok Penghulu.

Kami harus kerja lembur sampai malam hari untuk  menyelesaikannya seakan DPL ingin mengajarkan kami, bahwa pengabdian itu harus siap siang dan malam.

Hari-hari berikutnya, kami tidak hanya terlena dengan beberapa  catatan evaluasi perbaikan  proker hasil kunjungan kedua DPL.

Kami terus berusaha bersinergi dan berkolaborasi dengan semua pihak, kami tidak terlena sejumlah perbaikan hasil  evaluasi, yang terus kami perbaiki dan sempurnakan sesuai tujuan dan harapan yang diinginkan.

Di sela-sela melakukan perbaikan sejumlah laporan matrik  proker yang kami lakukan, kami  berkesempatan berkolaborasi dengan masyarakat desa dan panitia mesjid pada kegiatan sosial Jumat Berkah.

Kegiatan hari Jumat dengan tagle "Indahnya Berbagi Makanan",  diselenggarakan  pengurus Masjid Nurul Mukhlisin, melibatkan Datok Penghulu, jamaah Jumat, masyarakat Kampung Upah juga dilibatkan kami mahasiswa peserta KKM Universitas Almuslim.

Menurut Husni Mubaraq, ketua kelompok KKM Universitas Almuslim (Umuslim) Kampung Upah, makanan yang dibagikan merupakan hasil sedekah dari masyarakat setempat. Ini merupakan bentuk kepedulian sosial yang telah menjadi tradisi di desa tersebut.

"Kami sangat senang dan bahagia bisa ikut serta dalam kegiatan Jumat Berkah ini. Semoga bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi inspirasi bagi kami dalam membangun semangat kepedulian sosial antar sesama," ujar Husni Mubaraq didampingi Al Abrarul Akmal Z.

Dengan  semangat kekompakan pengabdian, kami ikut serta berpartisipasi dalam proses pembagian makanan, membantu panitia, serta berinteraksi dengan warga. 

Melihat wajah-wajah jamaah yang tersenyum bahagia setelah menerima makanan sederhana, kami menyadari bahwa berbagi tidak selalu harus dalam bentuk besar, tetapi keikhlasan dan kepedulian jauh lebih bermakna.

Di samping itu, setiap malam Jumat, kami juga ikut serta dalam kegiatan yasinan bersama di masjid desa, duduk berbanjar dan berbaur bersama jamaah lainnya, membaca surah Yasin.

Selain itu juga  mendengarkan tausiah yang dilaksankaan di masjid dan menasah membuat kami larut dalam suasana relegi dan merasa lebih dekat dengan masyarakat dan menguatkan nilai spiritual dalam diri kami.

Saelain momen dengan nuansa kebersamaan dengan masayarakat kampung Upah, momen kenangan yang tidak bisa kami lupakan selama pengabdian KKM di Kampung Upah, ketika kami juga bisa bersilaturahmi dalam suasana makan malam bersama dengan kelompok mahasiswa KKM dari kampung lain, tepatnya kampung Simpang 4 Upah. 

Letak kedua kampung ini berada di perbatasan antara Kecamatan Bendahara dan Kecamatan Karang Baru, membuat kebersamaan kami terasa semakin istimewa.

Ketua kelompok dari Desa Simpang 4 Upah, Ahlul Zikry, bersama beberapa rekannya, sempat kami ajak berbincang sebelum acara. Kami mengundang mereka untuk datang dan menikmati malam kebersamaan ini, cerita Husni.

Ternyata, ajakan kami disambut  antusias penuh kekekuargaan. Saat malam tiba, suasana hangat langsung terasa. Di bawah langit yang cerah, kami duduk melingkar, berbagi cerita, dan bercanda bersama. 

Gelak tawa bersahutan di antara suapan makanan yang menggugah selera. 

Tidak ada sekat antara kami, yang ada hanya, rasa senasib dalam kebersamaan yang semakin mengental dengan satu tujuan yang sama yaitu pengabdian. 

Kami bukan hanya berbagi makanan, tetapi juga pengalaman, ide, dan  harapan masa depan tambah Zahratul Aini dan Maulida sambil tersenyum bahagia.

Malam itu menjadi bukti bahwa pengabdian bukan hanya tentang bekerja di desa. Tetapi juga tentang membangun hubungan  bermakna, menumbuhkan rasa solidaritas dan semangat berbagi antar sesama.

Ketika acara berakhir, kami menyadari satu hal—momen sederhana ini akan selalu kami kenang sebagai bagian dari cerita pengabdian yang tak terlupakan, semoga kenangan dalam suasana suka, duka ini menjadi bukti dan kenangan abadi bagi kami, harap Bella yang turut diamini temanya yang lain Zaituni, dan Nanda Khaira.

Hari- hari berikutnya, seakan kenangan dan pengalaman  terus berganti tanpa henti. Siang itu, matahari bersinar terang, menyinari desa dengan kehangatan yang khas.

 Kami, kelompok mahasiswa KKM Universitas Almuslim, bersiap menghadiri wirid di dusun Buntu, meski kegiatan ini terdengar sederhana, bagi kami yang baru pertama kali berada di lingkungan ini, rasanya seperti akan menghadapi ujian besar.

Dengan wajah agak tegang, jantung seakan berdetak keras dag..,dig…, dug, seirama gerakan langkah kaki menuju lokasi wirid, karena dalam pikiran kami pastinya kkami akan diminta untuk memimpin acara wirid ibu-ibu hari itu.

Begitu tiba di lokasi, suasana terasa begitu hening, hanya suara bisik-bisik halus dari ibu-ibu yang sudah berkumpul memenuhi ruangan yang tidak terdengar. 

Setelah memberi salam, kami melangkah masuk dengan hati-hati, mencoba menyesuaikan diri. 

Namun, tak bisa dipungkiri, rasa gugup begitu terasa, terutama bagi ketua kelompok kami, Husni Mubaraq.

Di awal kehadiran sebagai perwakilan, Husni sebagai ketua kelompok harus memperkenalkan diri kelompok kami di hadapan semua peserta wirid yang jumlahnya hampir penuh ruangan acara. 

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya berbicara di depan sekumpulan ibu-ibu yang berpengalaman dalam kegiatan keagamaan, sementara kami hanyalah mahasiswa yang masih belajar.

 Dengan postur tubuh agak munggil, Husni berdiri dan menarik napas agak dalam, tapi mimik wajahnya terlihat begitu tegang, bibirnya  agak sedikit begetar.

Kemudian Husni kembali menarik nafas kembali, akhirnya tarikan nafas kedua ini sudah mulai agak tenang dan mulai berbicara:

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. Saat itu pula bintik-bintik keringat di dahi mulai nampak dan bercucuran ke pipi dan baju kemeja yang pakainya dibagian punggung mulai basah.

Tetapi beruntung,cucuran keringat  di bagian punggungnya tidak sampai diketahui orang lain, karena Husni hari itu  memakai atribut indentisnya sebagai mahasiswa dengan jas almamater.

Husni terus melanjutkan sambutannya dengan wajah sudah mulai tenang, keringat dinginnya juga terbang bersama cuaca panas yang mendera sebagian wilayah kampung Upah hari itu.

Beberapa ibu tersenyum, seolah memberikan semangat. Rekan-rekan Husni  yang lain semua tertunduk, seakan berdoa agar jalan rintang suara Husni jangan sampai tersendak di tengah perjalanan pidato perkenalan sore itu.

"Perkenalkan, nama saya Husni Mubaraq. Saya mahasiswa Universitas Almuslim dari jurusan Informatika, dan bersama teman-teman saya, kami sedang menjalankan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di desa ini selama satu bulan, ucap Husni dengan suara lantang. 

Tujuan kami adalah untuk belajar, berbagi, dan tentunya membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan, seperti pengenalan UMKM, kunjungan ke SD, serta program pengabdian lainnya," tambah Husni lagi.

Usai ucapan tersebut, satu-satu wajah teman Husni  mulai tegak sambil matanya terbelalak menatap wajah Husni yang semakin percaya diri berdiri dihadapan ibu-ibu peserta wirid.

Seiring berjalannya waktu, suara Husni semakin mantap, dan kepercayaan dirinya mulai tumbuh, seakan dirinya tengah menunjukan peformanya sebagai ketua kelompok KKM. 

Kemudian Husni melanjutkan sambutannya dengan memperkenalkan satu per satu anggota kelompok KKM Universitas almuslim yang ditempatkan di kampung Upah.

“Baik saya akan memperkenalkan satu-satu”, ucap Husni sambil memperkenalkan temanya satu -satu, mereka adalah :

• Rayya Ramadhani dari jurusan Teknik Sipil,
• Bella Zafina, Zaituni, dan Nanda Khaira dari jurusan PGSD,
• Zahratul Aini dari jurusan Ekonomi,
• Maulida dari jurusan Teknologi Industri Pertanian,
• Al Abrarul Akmal Z dari jurusan Agribisnis.
Setelah perkenalan selesai, suasana mulai mencair, ibu-ibu menyambut kami dengan senyuman ramah, ada yang berbisik, "Bagus, bagus, anak-anak ini sopan," dan ada juga yang mulai mengajak kami berbincang santai.

"Kamipun tidak tahu, apakah ibu-ibu itu ada berbisik sesamanya, agar anak-anak mahasiswa KKM ini bisa menjadi menantu mereka, kami tidak tahu", ujar salah seorang peserta KKM sambil berbisik kepada teman yang lain sambil tertawa.

Namun, ada satu momen yang cukup menggelitik bagi kami, saat kami kembali untuk wirid kedua, seorang ibu dengan semangat menyapa, "Eh, sudah datang lagi anak-anak KPM kita!

Kami langsung saling berpandangan, bingung sekaligus menahan tawa. Dalam hati kami bergumam, "Sejak kapan kami jadi anak KPM? Program kami kan KKM, bukan KPM.".

 Beberapa dari kami bahkan agak heran mendengarnya, tapi ya sudahlah, mungkin dulu yang sering datang ke desa ini adalah mahasiswa dari program KPM.

Seiring waktu, kami mulai terbiasa dengan cara ibu-ibu di desa ini menyebut kami. Yang terpenting, mereka menerima kami dengan hangat, meskipun salah menyebut nama program. 

Dan yang lebih penting lagi, wirid ini yang awalnya membuat kami grogi, dan sport jantung, kini menjadi momen yang paling kami nantikan dan menjadi arena latihan dan kenangan bagi kami. 

Kami pun semakin menikmati setiap momen, wirid ini bukan lagi sekadar acara rutin, melainkan menjadi jembatan menghubungkan kami dengan masyarakat.

 Setiap percakapan, setiap senyuman, dan setiap tawa yang dibagikan membuat kami merasa diterima, seolah kami telah menemukan keluarga baru di desa ini.

Siapa sangka, dari sebuah wirid siang hari, kami belajar tentang keberanian, adaptasi, komunikasi dan pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat? 

Kegiatan ini yang awalnya terasa seperti tantangan, kini menjadi peluang berharga dari pengalaman pengabdian kami.

Di tengah-tengah masa pengabdian kami di desa ini, ada satu sosok yang tak akan pernah kami lupakan Wan Rosmani. Bukan sekadar warga desa, beliau adalah nenek kami di sini.

Sejak awal kedatangan kami, Wan Rosmani selalu ada untuk mendukung, mendidik dan membimbing kami.

 Dengan senyum lembut dan kata-kata penuh kasih sayang, beliau sering memberi nasihat layaknya seorang nenek kepada cucu-cucunya.

Yang paling berkesan adalah saat para cowok di kelompok kami mendapat hadiah spesial dari beliau. Pakaian anak dan cucunya yang masih bagus diberikan kepada kami dengan penuh ketulusan. Awalnya, kami sempat terkejut dan bingung harus berkata apa. 

Namun, melihat raut wajah nenek Wan Rosmani yang penuh kasih sayang, hati kami terasa hangat. Kami bukan hanya sekadar tamu atau mahasiswa yang singgah sebentar.

 Kami adalah cucu-cucu baru bagi beliau, dan beliau adalah nenek kami di perantauan.

Satu hari, menjelang akhir masa pengabdian KKM, kami mohon pamit pada tuan rumah nenek Wan Rosmani, kami utarakan rencana kepulangan serta permohonan minta maaf dan pamit kami kepada beliau.

Wan Rosmani memberikan pesan yang menyentuh hati:
"Jaga diri kalian baik-baik, kuliah yang bener, semoga jadi anak yang sukses ya, dan jangan lupa nenek juga ketika kalian sukses."
 
Kami semua terdiam sejenak, ada rasa haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seorang nenek yang baru kami kenal satu bulan, tetapi begitu tulus menyayangi kami seperti keluarga sendiri.

Dengan mata berkaca-kaca, bibir agak bergetar, kami menjawab serentak:

"Baik, Nek. Insyaallah kalau kami sukses, kami akan berkunjung lagi, ucap Ketua kelompok Husni Mubaraq mewakili ungkapan hati teman-temanya yang lain.

 Bahkan kalau ada lewat ke arah Aceh Tamiang, kami pasti singgah di sini.", tambah mahasiswi lainnya.

Hari-hari berlalu begitu cepat, dan perpisahanpun tidak terelakkan, kenangan bersama Wan Rosmani akan selalu melekat di hati kami. 

Beliau bukan hanya bagian dari perjalanan KKM kami, tetapi juga bagian dari cerita hidup kami yang tak akan terlupakan.

Satu bulan terasa singkat, tapi kasih sayang yang diberikan Wan Rosmani akan selalu kami kenang sepanjang masa. 

Sebagai ucapan terimakasih kami yang paling dalam, melalui tulisan kenangan ini kami kirimkan sebuah pantun untuknya, semoga nenek kami senang.

Wan Rosmani nenek tersayang
Tanah Terban letaknya sebelah
Hari ini saatnya berpisah
Semoga nanti bisa besua lagi
❤️